Rabu, 18 Desember 2013

HUBUNGAN ARAH PENDIDIKAN DAN KEMANDIRIAN PANGAN DI INDONESIA

Arah pendidikan di Indonesia
            Pendidikan adalah hal terpenting yang wajib dilakukan untuk membentuk sumber daya yang mumpuni. Jenjang pendidikan dari TK hingga seterusnya umumnya dilalui dengan perjuangan yang keras dari setiap mereka yang menginginkan untuk berpendidikan tinggi. Berpendidikan tinggi adalah modal utama untuk menjadi seorang expert atau mumpuni dalam suatu bidang sehingga bisa mengambil peran yang strategis.
            Pejabat penentu kebijakan di Indonesia tidak dipungkiri bahwa mereka adalah sosok-sosok yang mumpuni dalam bidangnya. Dan memang inilah tujuan dari adanya proses pendidikan yaitu untuk membentuk insan berpendidikan yang akan meneruskan estafet perjuangan bangsa dalam rangka pembangunan nasional. Tapi apakah praktik yang dilakukan mengarah ke sana?
            Indonesia masih membutuhkan calon-calon pemimpin yang mumpuni baik dari segi ilmu dan juga baik dalam hal kepribadian. Sistem pendidikan Indonesia yang ada sekarang masih jauh dalam hal penerapan nilai-nilai. Padahal nilai-nilai inilah yang akan mendominasi seperti apa masa depan anak didik tersebut. Sebut saja ada nilai pancasila dan nilai agama yang menjadi acuan orang Indonesia secara umum dalam bertindak. Pancasila banyak didengungkan namun sejatinya tak meresap dalam kehidupan real orang Indonesia. Kemudian ada nilai agama yang sejatinya nilai inilah yang turut membentuk kultur Indonesia. Nilai agama adalah nilai yang secara kultural digunakan di Indonesia sebagai kontrol dalam berbuat sesuatu. Kedua nilai yang harusnya kuat ini nyatanya tidak teraplikasikan dengan baik dalam sistem pendidikan di Indonesia. Nasionalisme rendah, ajaran agama kurang, dan yang lebih dominan justru nilai-nilai barat yang telah menggerus nilai-nilai asli Indonesia.
            Apa hasil dari sistem pendidikan yang kurang tepat di Indonesia adalah pejabat-pejabat sekarang yang banyak tersandung hukum dalam praktek kerja mereka. Mereka adalah pemimpin-pemimpin harapan bangsa yang seharusnya bisa membawa bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Namun yang kurang disadari adalah tak ada proses instan untuk mendidik seorang pemimpin yang hebat. Hasil dari pendidikan yang instan adalah pemimpin yang pintar namun tak peduli masyarakat. Orientasi mereka secara umum adalah kesuksesan yang biasa disebut materi, tak ada kepedulian sama sekali.
           
Kemandirian pangan Indonesia
            Masalah kemandirian pangan adalah masalah vital bagi Indonesia. Negara agraris yang akhirnya harus mengimport 100 % beras dan juga 90 % industri pangan di Indonesia nyatanya dikuasai perusahaan multinasional sudah menjadi bukti yang cukup atas kegawatan yang terjadi. Kemandirian pangan adalah cita-cita Indonesia yang kini selalu digembor-gemborkan di semua kalangan. Semua kalangan pemerintah serempak mengajak untuk cinta produk negeri sendiri, mendukung tumbuhnya UKM-UKM, mengapresiasi pemuda yang berwirausha. Namun semuai itu ternyata tak semudah yang terlhat di permukaan. Yah seperti biasa, lidah tak bertulang sehingga mudah mengeluarkan dukungan lisan. Namun apalah arti semua itu jika action yang terjadi tak semudah yang dibicarakan, bahkan dibayangkan. Nyatanya urusan pangan justru menjadi prioritas kelima dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014.
            Kebijakan-kebijakan tak terintegrasi dengan tujuan yang ada justru mempersulit keadaan. Contoh kasus adalah masalah import yang hingga sekarang ini katanya ingin ditekan namun nyatanya penekanan yag terjadi layaknya penekanan yang dilakukan pada per, disaat tekanan diperlonggar, per akan melaju dengan bebas dan cepat. Hal itulah yang terjadi pada kuota import di Indonesia. Katanya mau ditekan tapi nyatanya rakyat kecil lagi yang jadi korban. Kuota yang sedikit dimanfaatkan oleh mereka yang mempunyai uang.
Misalkan saja produksi mie yang dilakukan oleh UKM dibandingkan perusahaan mi instan terbesar. Biaya produksi keduanya bisa sanagt beda jauh. Terutama pada bahan baku. Pada perusahaan besar, semua bahan dapat dilakukan secara impor karena memang kapasitas produksinya sudah besar. Hal ini jelas tidak dapat dilakukan oleh UKM yang kapasitas produksi nya masih terbatas. Perusahaan besar hanya membayar  pajak import. Sedangkan UKM harus membayar serentetan pajak hingga produk mereka bisa sampai di tangan konsumen. Alhasil UKM hanya bisa menggigit bibir.

Hubungan arah pendidikan dengan kemandirian pangan
      Cita-cita yang sama tidak terintegrasi. Tujuan mulia tidak tereaisasi. Di sini lah hubungan antara arah pendidikan dan kemandirian pangan. Wujud pemimpin sekarang ini adalah hasil dari pendidikan instan yang tidak mencapai tujuan yang sempurna. Pemimpin tidak dilahirkan tapi diciptakan. Dan menciptakan pemimpin atau mendidik orang untuk menjadi seorang pemimpin membutuhkan waktu yang lama. Sedangkan pemimpin sekarang adalah hasil dari proses pendidikan instan yang secara umum minim menerapakan nilai-nilai apapun yang ada di Indonesia. Sistem pendidikan yang ada adalah mencetak manusia pekerja yang menilai sukses adalah materi atau kekuasaan. Bekerja beda dengan mengabdi. Yang ada adalah mendapatkan sesuatu bukan untuk memberikan sesuatu.
        Pertanian yang seharusnya menjadi kekayaan abadi Indonesia nyatanya tidak memberikan apa-apa bagi pekerja. Pertanian identik dengan petani, identik dengan miskin, identik dengan tidak modern. Jelas saja tidak ada yang sudi mengurus pertanian. Inilah hasil pendidikan Indonesia. Bahkan mahasiswa jurusan pertanian pun sudah berniat di awal untuk tidak bekerja di petanian. Tak sedikit dari mereka yang mempelajari keahlian lain untuk jaga-jaga jika tidak diterima bekerja di bidang pertanian. Tak ada nilai yang terserap sedikitpun.
        Jika pertanian keadaanya seperti ini, what the next? Kemandirian pangan mana mungkin bisa terealisasi jika pertanian yang notabene sumber daya pangan di Indonesia tidak diurusi.
         Inilah yang terjadi. Masalah kemandirian pangan bukanlah masalah kecil atau sempit hanya masalah pangan. Kemandirian pangan adalah masalah besar bangsa Indonesia yng dipengaruhi dan mempengaruhi keseluruhan pembangunan di Indonesia. Dibutuhkan pemimpin yang benar-benar mumpuni dan yang paling penting adalah berkepribadian baik. Orang baik dengan peran baik akan menghasilkan yang baik. Sehebat apapun peran namun jika tak ada nilai baik di sana hasilnya nihil bahkan minus.
        Arah pendidikan di Indonesia yang tidak tepat juga turut menyumbang keburukan-keburukan yang terjadi. Lulusan pertanian yang jumlahnya seabreg kini dapat dihitung berapa banyak yang benar-benar peduli terhadap pertanian. Mungkin saja telat memberikan pengertian kepada anak didik tingkat mahasiswa untuk menerapkan nilai kepedulian bangsa dan berkepribadian baik. Semuanya dapat dilakukan lebih dini. Arah pendidikan di Indonesia harus lebih dijelaskan lagi agar tidak hanya mencetak pekerja yang baik namun juga baik dalam hal nasionalisme dan kepribadian. Jusru mencetak orang baik adalah sebuah main goal dengan subordinat mencetak pekerja yang baik.
       Kemandirian pangan adalah masalah yang butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Dan generasi muda adalah generasi penerus bangsa yang perlu untuk diarahkan sejak dini. Oleh karena itu arah pendidikan di Indonesia seyogyanya bisa diperbaiki agar kemandirian pangan tidak lagi menjadi mimpi yang muluk.




Minggu, 08 Desember 2013

C Family untuk Indonesia

Masyarakat sekarang ini mulai pintar dalam memilih produk. Era back to nature sedikit banyak mempengaruhi masyarakat untuk memperhatikan apa yang mereka konsumsi. Meningkatnya permintaan terhadap produk pangan sehat alami merupakan bukti meningkatnya kesadaran masyarakat dalam memperhatikan kesehatan. Salah satu produk sehat alami adalah produk herbal. Produk herbal kini banyak ditemukan dimana-mana dan diprediksi prospeknya akan terus meningkat setiap tahun. Peluang ini juga dimanfaatkan oleh C family. C family merupakan tim usaha yang menghadirkan inovasi baru yaitu produk teh ciplukan. Tim usaha yang  baru berumur 2 tahun ini mencoba untuk terus maju, berkomitmen untu mewujudkan mimpi mereka untuk mendirikan perusahaan pangan alami kebanggaan Indonesia. Intin Nurwati sebagai manajer utama, Denok Kumalasari sebagai manajer produksi, dan Rahmi Wijayanti sebagai Manajer Pemasaran, terus melakukan pengembangan usaha di samping kegiatan kuliah di Fakultas Teknologi Pertanian UGM.
Produk yang dihasilkan oleh C Family adalah teh ciplukan dengan merk “Salwa” setelah menggantikan merk pertama yaitu “Cip Cup Tea”. Produk ini berupa teh celup dengan spesifikasi konsumen adalah penderita diabetes dan hipertensi. Pemasaran teh ciplukan memaksimalkan media online dan pameran. Media online dirasa menyediakan kemudahan untuk masyarakat luas dalam mengakses. Ditambah lagi, kecangkihan teknologi dan komunikasi di kalangan masyarakat menjadi hal positif yang bisa digunakan secara efektif dan efisien bahkan saling menguntungkan satu sama lain. Hal inilah yang menjadikan  C Family yang berproduksi di Yogyakarta, dapat menjangkau hampir seluruh pulau di Indonesia dalam hal pemasaran. Dan hingga kini respon masyarakat terhadap Teh Salwa cukup positif serta C Family bertekad untuk terus meningkatkan pelayanan.
Usaha ini dirintis pada tahun 2011 berawal dari keinginan Intin, Denok, dan Rahmi untuk membangun usaha bersama. Ide yang muncul tak jauh-jauh dari bidang mereka yaitu Teknologi Industri Pertanian. Ide awal adalah ide sederhana tentang tanaman ciplukan yang melimpah, tumbuh liar, tidak bernilai ekonomi, namun memiliki khasiat beragam bagi kesehatan terutama untuk mengobati diabetes dan hipertensi. Mereka tertantang untuk mengolahnya menjadi produk yang bernilai tinggi sehingga khasiat tanaman ciplukan dapat dirasakan oleh banyak orang. Ide tersebut akhirnya di ajukan pada program Pekan Kreatifitas Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Dewan Pendidikan Tinggi (Dikti) pada tahun 2011. Meskipun tidak lolos hingga babak Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS), namun C Family berhasil mendapatkan hibah modal sebesar 7 juta rupiah.
Dua puluh dua Januari 2012 ditetapkan sebagai hari lahirnya C Family dengan segala komitmennya untuk mensukseskan produk teh ciplukan yang mereka hasilkan Banyak tantangan menghadang termasuk diantaranya adalah banyak masyarakat kota yang menjadi segement pasar teh ciplukan belum paham dan tidak mengenal tanaman ciplukan apalagi manfaatnya. Hal ini menuntut untuk dilakukannya edukasi dan promosi yang masif. Meskipun rintangan selalu berdatangan, hal tersebut tidak menyurutkan langkah C Family dikarenakan mereka mempunyai passion di bidang wirausaha. Hal inilah yang menjadi alasan mereka menikmati segala proses yang dilalui.
Sekarang produk teh ciplukan telah berkembang dan beredar semakin luas di pasaran. Produk ini juga sudah mengantongi ijin pemasaran produk berupa No IRT dan Halal MUI. Dalam hal produksi, C Family bekerjasama dengan LIPI Gunung Kidul yang menyediakan fasilitas laboratorium sebagai tempat produksi teh ciplukan. Proses produksi teh ciplukan diawasi langsung oleh pihak LIPI sehingga kualitasnya terjamin. Harapan C Family adalah produk ini terus berkembang sehingga dapat menjadi produk lokal kebanggaan Indonesia.
          Pada Oktober 2013, C Family yang diwakili oleh Intin Nurwati berhasil meraih Juara III Kompetisi Wirausaha Pemula Nasional bidang Jasa Boga yang diselenggarakan Kemenpora. Prestasi ini menjadi motivasi bagi C Family untuk terus berkarya dan mewujudkan mimpi mereka untuk Indonesia.

Rabu, 04 Desember 2013

AKU DAN MEREKA


     Tak ada orang sukses yang bisa mengerjakan impiannya sendiri. Karena sejatinya di dalam kesuksesan tiap orang, pasti ada peran orang lain di dalamnya. Aku... Ini ceritaku dengan mereka, dua orang partner super serta sahabat handal yang kami bertemu minimal sekali seminggu sejak dua tahun yang lalu. Banyak sekali kisah perjuangan yang kami lakukan bersama. Perjuangan? Entahlah, sampai sekarang aku masih terlalu awam dengan kata itu. Setiap mengusahakan apapun, aku merasa belum pantas disebut berjuang. Emm.. kesannya terlalu dramatis buatku yang.. emm.. mungkin karena aku melalui semuanya dengan enjoy, bersama mereka.
     Kini aku berada pada titik dimana aku menyadari semua hal itu memang benar-benar lebih mudah jika dikerjakan bersama. Dan syukurku adalah karena aku berpartner dengan mereka yang menurutku mereka adalah orang-orang yang sangat berbeda denganku namun mengerti diriku secara profesional, tanpa emosional yang berlebihan. Pass!
     Kami punya mimpi masing-masing dan tidak saling menggantungkan. Kami mandiri namun dalam kebersamaan. Kami tumbuh bersama meskipun sebenarnya otodidak. Konflik? Aku tak tahu. Aku merasa yang ada adalah luasnya pengertian dan kesadaran sebelum kesalahan.
Jika Allah mengizinkan, aku ingin selalu mengingat awal kami bertemu, share ide, mimpi, berkumpul pagi, berkendara siang, miss com, terlambat, tertawa, berkata “ow..”, dan “aha!”. Nano nano. Hingga kini keadaan kami jauh lebih baik dari dahulu, dan semoga selalu bertambah baik. Namun tetap, semua ini masih awal. Karena mimpi kami adalah mimpi besar gabungan dari 3 pemikiran. Dan aku yakin, prosesnya masih terus berjalan dan bahkan akan lebih terasa. Harapanku adalah kami bertiga baik-baik saja, dan semua yang kami awali dengan indah dapat kami tuntaskan dengan indah pula.  
     Tentang proses yang ada... Hey susah, datanglah jika memang engkau akan bisa mengajarkan kami nikmatnya kelapangan. Hey senang, datanglah jika kau mau mengajarkan bahwa kami menikmati proses ini. Dan untukmu semangat, jangan pernah kau pergi karena kau adalah bukti kekuatan mimpi kami.