Rabu, 09 Juli 2014

SAY NO TO SINETRON


          Kali ini aku mau bahas tentang sinetron. Semua murni pikiranku sendiri ya. Pikiranku yang mengatakan bahwa anjuran untuk tidak menonton sinetron itu sangat diperlukan. Sebenarnya kalau kita sibuk dengan banyak kegiatan, menonton sinetron adalah hal yang sangat tidak penting apalagi banyak kegiatan lain yang lebih produktif. Tapi, yang perlu diingat adalah waktu tayang sinetron itu memang timing nya pas sekali, sore menjelang malam, waktu istirahat bagi siapapun entah ibu rumah tangga, pekerja kantor, juag pelajar.
                Malam ini, ya malam ini tadi, aku iseng nonton sinetron CHSI yang lagi jadi trending topic di kalangan pecinta sinetron. Dan akhirnya aku memang mengikuti jalan ceritanya sejam lebih, bahkan iklan saja sampe aku ladenin. Menurutku sinetron ini memang bagus, dan banyak yang bilang begitu. Cerita tentang masalah berbagai rumah tangga yang memuat banyak pelajaran di dalamnya. Memang ada ilmunya, tapi.... tetap ada tapinya. Dan masalah ini adalah masalah paling puncak bagi ku kenapa aku menetapkan diriku alergi pada sinetron. Di saat cerita sedang seru-serunya, eh satu kata itu keluar...”bersambung”... pengen teriak dan membanting remote saat itu juga. Astaghfirullah..
                Setelah itu aku berpesan pada Ibu.. “Bu, tolong diingetin jangan sampe aku besuk menonton sinetron ini lagi...”. aku benar-benar melakukannya. jalan ceritanya aku akui jauh lebih bagus daripada sinetron-sinetron lain yang kurang mendidik. Tapi, bikin penasarannya itu lo!. Dan ceritanya nggak tuntas. *namanya juag sinetron...
Sementara aku sangat tidak suka pada sesuatu yang bikin ketagihan kalau aku hanya jadi penonton. Serasa nggak ada kerjaan lain gitu lo...
                Aku setuju sekali dengan metode pendidikan anak yang dilakukan keluarga 10 bintang al qur an yang pernah aku baca. TV adalah media yang memang harus disingkirkan karena tidak mendukung pendidikan. Acara apa hayo di TV yang bagus buat anak-anak? Laptop si Unyil? Sedikit sekali acara yang mengandung edukasi. Yang ada si anak malah ketagihan sinetron GGS (Ganteng-Ganteng Serigala). Sinetron yang sekolahnay cuam satu kelas, gurunya Cuma 2, dan muridnya pelukan di depan guru. Hrr...
 Aku ingat aku juga pernah maen ke rumah teman dimana di rumahnya, TV hanya ada di kamar Bapak Ibu. Jadi anak-anak tidak akan bisa menonton TV kecuali dengan ijin dan pengawasan orang tua. Sedep bener...
                Menolak sinetron juga bukan hal gampang. Awalnya kita bilang nggak suka tapi kalo di jam tayangnya kita melototoin tu TV, lama lama akan tertarik juga. Jadi jangan dicoba, walau secuil.. hehehe

Selasa, 24 Juni 2014

ILMU DI BIS NON AC

Bismillah, dimanapun aku berada sudah menjadi komitmenku untuk tetap rajin menulis. Menulis apapun. Menulis telah menjadi hobyku sejak dulu, entah hobBy yang aku paksakan atau seperti apa, yang aku tahu, semua oranG hebat pnya tulisan, punya gagasan yang ditulis. Dan aku ingin menjadi seperti mereka.
Menulis bisa dilakukan dimana saja, dan memang menulis itu sangat menyenangkan. Aku yang biasanya hanya menuis di buku harian, kini akan aku biasakan menulis hal-hal yang lebih bermanfaat yang nggak hanya sekedar curhat. HehehE

Sudah sebulan pasca kelulusan. Aku sudah menetap di rumah. Kemarin hari minggu aku pergi ke klaten menggunakan bis. Naik bis bukan hal istimewa lagi. Dulu aku yang selalu teler kini sudah terbiasa nge-bis dari jarak dekat ataupun jauh. Dan setelah aku pikir-pikir, banyak sekali pengalaman nyata yang aku dapatkan selama naik bis. Banyak sekali. Aku merasa lebih banyak ilmu yang aku dapat saat aku naik bis dibandingkan naik kereta, dibandingkan lagi naik pesawat. Kembali soal bis. Yang saya maksud di sini adalah bis kelas ekonomi loh ya..

Pertama adalah kita butuh keberanian untuk naik bis. Nggak semua orang berani lo naik bis sendirian. Apalagi di terminal rame sekali dan sudah menjadi rahasia umum bahwa kita harus hati-hati saat berada di terminal. Saya pun sebenarnya nggak berani-berani amat. Biasanya orang berani kan karena sudah terbiasa atau sudah tahu. Nah teori ini nggak berlaku untuk orang yang sedang perjalanan. Berani yang dimaksud di sini adalah keberanian dalam bertanya. Yup! Bertanya. Harus berani bertanya bis jurusan yang kamu tuju yang mana agar nggak salah bis, apapun yang kita nggak tahu, jangan segan untuk bertanya. Inshaallah kalau cuma bertanya nggak dipungut biaya. Menurut saya kuncinya cuma itu. Biasanya mahasiswa baru ni yang sedang dalam masa-masa awal menjajak i dunia terminal hahaha.

Memang, bis adalah kendaraan umum yang paling terjangkau. Tapi ilmu di dalam bis nggak akan kita dapat di manapun. Suer dah. Kemarin, terakhir naik bis dari Klaten ke Solo, saya mendapat kursi paling belakang dan bareng ma ayam. Ngok. Serius. Jaman modern gini masih ada lo ayam naik bis, saya sendiri juga kaget. Dan untung nggak pingsan. Namun dari situ saya berfikir saat itulah saya belajar bahwa ya hidup memang seperti itu. Samping kanan saya mas-mas, samping kiri saya bapak-bapak. Dempet-dempetan sudah pasti. Jangan harap mau leluasa ya.. trus ayamnya ada di kardus di belakang kepalaku. Hadeh kebayang nggak? Dimanapun kita berada, dan siapapun yang berada di samping kita, tetap kita harus bersyukur. Apalagi penumpang bis itu beragam sekali. Ada yang kalangan bawah dan paling banter menengah kali ya. Memang keadaan saya yang terhimpit di belakang terasa kurang nyaman, tapi saya lebih mending daripada penumpang yang berdiri karena kursi sudah penuh.

Meskipun bis yang saya naiki bukan bis AC, tapi angin dari pintu bis yang terbuka sudah membuat saya semriwing dahsyat. Alkhamdulillah nggak kecium tu bau ayam yang belum mandi.

Waktu tu ada mas-mas di depan saya yang berdiri. Sebelumya mas nya ini dapet kursi. Tapi tiap ada penumpang ibu-ibu yang masuk bis, mas nya rela untuk memberikan kursinya. Dua kali saya lihat selama perjalanan dari Klaten ke Solo tersebut.... semoga Allah memberikan rizki melimpah untuk orang tersebut aamiin


Yang tidak ketinggalan adalah hiburan di bis. Pengamen. Mau dari yang pake peci pe tatoan penuh. Dari yag suaranya bagus pe yang cuma nggenjreng, semua ada. Memang rata-rata dari mereka menyebalkan. Awalnya saya berfikir seperti itu. Tapi akhirnya saya lebih menghormati mereka yang mengamen di bis daripada mereka yang nyopet di bis. Dua kali saya memergoki pencopetan di bis, dan dua kali saya jadi korban pencopetan di bis. Dan pelakunya berpenampilan rapi saudara-saudara... waspadalah waspadalah!

Peduli lingkungan, mulai dari diri sendiri

Aku adalah anak desa yang baru pulang dari kota. Halah! Desaku masih tergolong asri. Meskipun pekarangan tak sehijau dulu, tapi sebenarnya tak susah menanam pohon atau sejenisnya. Aku ingat saat di kos dulu, sampah menumpuk satu tong perharinya. Semua sampah dari belsan kamar bercampur dari yang organik, plastik, kain, entahlah apalagi. Membayangkan isinya saja sudah membuatku mual. Hal yang paling menyebalkan lagi adalah jika tukang sampah tidak datang beberapa hari. Aku ingat sekali pernah melihat tong sampah di depan gerbang dikerumuni belatung. OMG! Emm tapi ya sudahlah, yang penting tak ada sampah di kamarku. Jika sampah sudah di luar ruangan, kan sudah jadi urusan tukang sampah. Mungkin ada dari kita yang berfikiran sama, tapi ternyata tidak sesederhana itu lo..

Coba cari tau keadaan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di daerah maisng-masing. Bakal eneg deh. Saat ketemuan kumpul sama teman, obrolan tentang sampah juga nggak ada matinya. Banjir, sungai mampet, sampah di jalan, dll semua dikeluhkan. Seakan-akan semua peduli tapi nyatanya juga masih nyampah dengan enteng. Itulah manusia. Dan sebenarnya nyampah itu manusiawi, karena kita memang setiap hari tidak dapat menghindari membuang sampah.

Isu peduli lingkungan sudah menjadi wacana dari dulu. Actionnya juga sudah mulai berkembang, tapi kesinambungannya itu lo. Seyogyanya memang semua dibiasakan dari hal kecil, dari diri sendiri, dan tidak ditunda.

Dulu aku heran pada Ibuku yang selalu mengumpulkan karet bekas, kertas bekas, plastik bekas, styoroform, apapun itu. Yang nggak kebayang akan dipakai lagi juga ibu simpan kalau keadaannya masih lumayan. Aku sering ngomel “ngapain barang kaya gini disimpan?”. Botol plastik disimpan, gelas air mineral dikumpulkan. Begitulah... dulu aku belum sadar. Ibu memang tak mengenal isu peduli lingkungan seperti yang aku ketahui. Ibu hanya bilang sebagai ibu rumah tangga harus pintar-pintar mendayagunakan semua yang sudah ada. Dan kini aku sadar bahwa langkah kecil ibu yang dilakukan sedari dulu telah banyak berperan untuk mengurangi sampah.

So, mulai dari hal kecil. Sampah memang tidak dapat dimusnahkan. Tapi sampah bisa dikurangi. Aplikasinya? Berfikirlah seribu kali sebelum memasukkan barang bekasmu di tong sampah cuy... ! daripada dibuang, mending diloakin dapet uang. Dan sampah yang terkumpul di pengepul bakal didaur ulang lagi. Nah tu masuk action kan.


Trus, kalau mau belanja, kurangi pemakaian plastik. Apalagi ya? Banyak lah... bisa dicari dari berbagai sumber. Yang susah tu adalah membiasakan diri. Ayo mulai dari sekarang, demi anak, cucu, dan bumi tercinta.