Kamis, 04 Februari 2016

SEPATU BOLA

             Hari ini adalah hari yang dinanti-nanti oleh Hilmi. Hari ini hari libur sekolah. Hilmi berencana akan mengutarakan keinginannya untuk dibelikan sepatu baru. Setelah sarapan nasi goreng hangat, tak seperti biasa Hilmi menaruh piring bekas makan di tempat cuci piring.
            “Waw, pintar sekali anak bunda.. nggak lupa bawa piring kotor ke washtafel. Bunda bangga deh!” Bunda mengacungkan dua jempolnya kepada Hilmi. Hilmi tersenyum riang menampakkan giginya yang putih dan sehat.
            “Bunda, aku mau bilang sesuatu nih!” Ekspresi Hilmi tiba-tiba berubah.
            “Bilang apa sayang?”
            “Sepatu bolaku nggak enak dipakai, aku ingin sepatu baru seperti punya Rio.”
            “Nggak enak gimana? Itu kan baru beli seminggu yang lalu. Kamu sendiri yang pilih di toko. Iya kan?” Bunda mengingatkan.
            Hilmi mengangguk.
            “Tapi aku mau yang baru lagi ya Bun? Mau kan nganter aku ke toko? Nanti uangnya aku minta sama Ayah.”
            Bunda nampak keberatan dengan ajakan Hilmi.
“Hilmi sayang, kan itu sepatunya masih baru. Nanti kalau beli lagi, sepatu itu pasti nggak kamu pakai kan? Bunda lihat ukurannya cocok kok sama kaki kamu. Tu lihat, masih ada sepatu lain juga yang jarang kamu pakai.” Bunda menunjukkan tumpukan sepatu Hilmi di rak sepatu.
            “Tapi kan Bun, nanti bisa buat gantian. Pasti aku pakai.. Aku janji.” Hilmi membulatkan matanya berharap Bunda mau membelikan sepatu baru.
            Akhirnya Hilmi menundukkan kepala setelah melihat Bunda menggelengkan kepala pertanda tidak setuju. Sebenarnya Hilmi sudah memiliki banyak sepatu. Sepatu hitam untuk sekolah saja ada 3 model yang berbeda. Sepatu bolanya sudah ada 2 pasang. Hilmi senang sekali mengoleksi sepatu. Untuk kali ini Bunda keberatan untuk membelikan sepatu baru karena baru saja minggu kemarin Hilmi membeli sepatu bola baru. Warnanya biru.
            Hilmi pasrah dengan jawaban Bunda. Ia menuju kamar dan memutuskan untuk berangkat menuju lapangan lebih awal. Hari ini Hilmi akan bermain sepak bola bersama teman-temannya.
            “Bun, aku berangkat dulu ya.. ?”
            “Oh iya, nah gitu dunk sepatu baru semangat baru! Ya kan?” Bunda mengepalkan tangan menyemangati Hilmi.
            Hilmi mencium tangan Bunda seraya mengucapkan salam, “Assalamualaykum..”
            “Waalaykumsalam. Hati-hati ya...”

...........................................

            Sesampainya di lapangan, sudah ada Rio dan Adi yang datang lebih awal. Mereka duduk di bawah pohon menunggu yang lain datang. Hilmi bergabung dengan mereka.
            “Hay Hilmi, tumben kamu datang pagi?” Ejek Rio.
            “Iya. Aku mau pemanasan dulu. Yuk kita lari keliling lapangan!” Ajak Hilmi.
            “Iya! benar. Daripada duduk di sini, mendingan kita pemanasan agar otot kita nggak kaku.” Adi mengiyakan.
            “Oke... aku yang pimpin ya!” Rio berdiri disusul dengan Hilmi dan Adi. Mereka membuat lingkaran berhadap-hadapan dan memulai gerakan pemanasan dimulai dari kepala.
            Hilmi memandang sepatu Rio. Sepatu Rio adalah hadiah ulang tahun dari ayahnya seminggu yang lalu. Sepatu Hilmi dan Rio sama-sama baru namun Hilmi merasa sepatu Rio lebih bagus daripada sepatu miliknya. Sepatu Rio bewarna merah dan terlihat mengkilat, apalagi jika terkena sinar matahari.
            “Kamu suka sepatuku ya?..” Rio bertannya mengagetkan Hilmi.
            “Oh tidak! Sepatuku juga baru. Aku suka sepatuku.” Jawan Hilmi.
            “Iya. tapi sepatuku lebih bagus. Coba bandingkan.” Rio mendekatkan kakinya ke kaki Hilmi.
“Coba kau lihat Di, bagus mana?” Rio menanyakan pendapat Adi.
“Ah kalian ini! Sama-sama bagus kok. Tanpa sepatu juga bisa main bola. Yang penting kita semangat! Hahahahaha...” Adi tertawa lebar.
Hilmi dan Rio melihat kaki Adi yang tak bersepatu. Dari awal latihan sepak bola sebulan yang lalu, Adi memang tidak pernah memakai sepatu. Ia berangkat hanya membawa sandal jepit dan meninggalkannya di bawah pohon saat bermain di lapangan.
“Di, kamu kenapa nggak bawa sepatu?” tanya Rio.
“Aku nggak suka pakai sepatu. Udah ayo kita lari...!” Adi mulai berlari mengelilingi lapangan disusul Hilmi dan Rio.
Pagi ini indah. Lapangan penuh dengan teriakan semangat dari Hilmi dan teman-temannya. Permainan sepak bola dihentikan saat matahari sudah mulai terik. Meskipun lelah dan berkeringat, mereka semua tertawa riang dan merasa puas.
“Adi, kamu mau kemana setelah ini?” Hilmi berjalan menghampiri Adi.
“Aku mau pulang. Mau mandi lah.. Badan bau keringat ni. Kenapa?”
“Ayo main dulu lah! Aku main ke rumah kamu boleh? Nggak jauh dari sini kan?” Ajak Hilmi.
“Oh, tentu saja. Oke! “
Hilmi dan Adi berjalan beriringan. Rumah Adi tidak jah dari lapangan bola.
“Kita nanti main apa di rumahmu?” Tanya Hilmi antusias.
“Emmmm....apa ya...? Aku tidak punya banyak mainan. Emm... Tapi di depan rumahku ada gundukan pasir. Kita bisa buat istana pasir atau terowongan di sana. Bagaimana?”
“Wah... ide bagus!” Mereka pun tertawa bersama.
Sesampainya di rumah Adi, mereka langsung duduk di teras rumah.
“Adi, orang tua kamu dimana? Kok sepi?” Hilmi melihat sekeliling rumah Adi yang pintunya terlihat terkunci..
“Bapak sama Ibuku di pasar jualan bubur. Nanti pulangnya kadang siang kadang sore. Sehabisnya dagangan.”
            “ Kamu di rumah sendiri? “ Hilmi kembali bertanya.
            “Iya. Sudah biasa kok. Udah yuk kita main pasir. Tu!” Adi menunjukkan gundukan pasir yang cukup tinggi di depan rumahnya.
            Adi berlari menuju gundukan pasir dengan semangat.
            “Kamu lepas saja sepatumu di teras, biar nanti tidak kemasukan pasir.” Adi menyarankan.
            Hilmi mengikuti perkataan Adi. Ia melepas sepatu biru di teras. Sebelum beranjak, Hilmi kembali melihat sekeliling seraya meraba lehernya. Ia menelan ludah tanda kehausan.
            “Adi, aku boleh minta minum? Aku haus ni.. Air minumku habis!” Hilmi menunjukkan botol minum kosongnya pada Adi.
            “Oh tentu. Maaf ya aku sampai lupa tidak melayani tamu.” Adi tertawa lebar. Ia kemudian berjalan ke dalam rumahnya.
            Satu menit kemudian, Adi keluar membawa segelas air putih untuk Hilmi. “Adanya cuma air putih. Semoga hausmu hilang ya! Jangan lupa ucap bismillah..” Adi memberikan gelas seraya tersenyum tulus.
            “Terima kasih..” Hilmi meminum segelas air itu hingga tak bersisa.
            Adi dan Hilmi bermain pasir dengan riang gembira. Mereka membuat bangunan benteng istana bersama. Pasir itu dibasahi dengan percikan air kemudian dicetak dengan tangan. Tangan mereka pun diselimuti banyak pasir. Adi dan Hilmi bertekad akan membuat benteng istana setinggi mereka mampu. Tawa riang menghiasi terdengar seru.
            Sakinga asyiknya bermain, tak terasa jam sudah menunjukkan jam 11 siang. Matahari sudah panas terik. Hilmi dan Adi berhasil menghasilkan bangunan benteng istana pasir yang tinggi. Bangunan itu terlihat bertingkat dengan gedung bundar. Gedung bundar adalah hasil cetakan menggunakan gelas. Untuk pagarnya, mereka menggunakan batu kerikil yang seragam ditata mengelilingi istana.
            “Ye bagus!” Adi dan Hilmi berteriak bersama sambil tertawa.
            “Aku kalau besar nanti ingin menjadi arsitektur handal. Aku ingin bangun rumah mirip istana ini!” Hilmi mengutarakan mimpinya bersemangat.
            “Eh! Sudah siang. Ayo kita istirahat. Aku haus ni!” Adi mengusap keringat di wajahnya dengan kaos. Mereka mencuci tangan kemudian Adi membawakan 2 gelas air putih untuk mereka bersama.
            “Sudah waktunya pulang ni. Sudah panas juga.” Hilmi sadar bahwa hari sudah siang. Bunda sedang menunggunya di rumah.
            “Oh iya. aku juga mau mandi. Bau kecut! Hahahahaha!” Balas Adi sambil tertawa lebar.
            “Tapi aku malas pulang!”
            “Hah?! Kenapa?” Adi heran mendengar perkataan Hilmi.
            “Aku tadi pagi minta sepatu baru sama Bunda tapi nggak dikasih. Makanya aku malas pulang dan main ke sini.”
            “Hilmi... Hilmi... Bukannya sepatumu itu baru ya?! Kok mau beli baru lagi? Padahal itu sudah bagus banget!” Adi berkata seakan tak percaya dengan keinginan Hilmi.
            “Aku mau beli yang seperti punya Rio. Bukan dia aja yang bisa punya sepatu bagus kaya gitu! Huh!” Hilmi memajukan bibirnya tanda sebal.
            “Kata Ibuku, kita nggak boleh iri sama teman. Apalagi urusan barang kepunyaan. Tugas kita tu jadi anak yang baik dan  belajar yang rajin. Apalagi kamu nanti mau jadi arsitektur, harus pintar lho.. Kalau nggak pintar nanti rumah yang kamu bangun cepat ambruk!” Adi menampakkan muka serius.
            “Ah kamu! Emangnya kalau kamu besar mau jadi apa Di?!” Hilmi penasaran.
            “Aku mau jadi pemain sepak bola. Aku suka sekali bermain sepak bola. Itulah kenapa aku selalu berangkat awal. Aku mau cita-citaku tercapai.” Adi menjawab mantap.
            “Hahahhahah.. Pemain sepak bola tu wajib pakai sepatu bola. Kamu pakai sepatu aja nggak mau kok!” Hilmi menertawakan keinginan Adi.
            “Yaaa.... Itu karena aku nggak punya Mi..” Raut muka Adi tiba-tiba berubah menjadi sedih.
            “Kamu bilang kamu nggak suka pakai sepatu?” Hilmi kembali bertanya.
            “Aku nggak mau kalian menertawakanku. Sepatuku sekolah saja sudah mulai bolong. Ibu belum membelikan yang baru. Apalagi sepatu bola yang harganya lebih mahal, aku tidak berani minta. Tiap hari Ibu  dan Bapak sudah bekerja keras. Kalau uangnya sudah cukup pasti aku akan dibelikan.”
            Hilmi langsung terhenyak. Ia merasa bersalah karena menertawakan Adi.
            “Maafkan aku ya Di.. Aku kira...”
            “Eh nggak apa-apa! Santai saja. Nanti kalau aku sudah punya sepatu bola, aku pasti menjadi suka memakai sepatu. Iya kan?!”
            Mereka pun tertawa bersama.
            Hilmi kemudian pamit untuk pulang. Sepanjang perjalanan, ia berpikir bahwa ia jauh beruntung daripada Adi. Hilmi bertekad akan minta maaf pada Bunda. Saat memandang sepatu biru yang ia pakai, muncullah senyum penuh syukur. Hilmi baru sadar  tak seharusnya ia iri pada Rio. Sudah sepantasnya ia tetap gembira atas apapun yang dimilikinya.
            Daripada membeli sepatu baru untukku, lebih baik membelikan sepatu baru untuk Adi, batin Hilmi.
            Hilmi tersenyum membayangkan senyum Adi. Ia juga bersyukur kenal dengan Adi.

SENJA TITA

         Jingga sore ini cantik sekali secantik dirimu. Kau terpoles ayu memakai gaun merah maron peninggalan Mbak Ning. Jari lentik itu berhena sederhana hasil karya tanganku. Kerudungmu menjuntai rapi berhiaskan sedikit rangkaian melati layaknya bando permata. Senyum tipis masih kau usahakan untuk menghibur hatimu. Meskipun aku tahu bening matamu sore ini adalah karena air mata, aku tak ingin melepas pandanganku. Aku ingin memastikan kau melewati hari ini dengan ria. Hingga detik ini, engkaulah inspirasi terkuat yang Allah hadirkan dalam kehidupanku. Aku menyadari betapa eloknya skenario Allah di sepanjang hidupmu.
            Kamarmu yang sudah biasa rapi kini lebih tertata dan wangi. Tak ada hiasan meriah layaknya kamar pengantin baru. Semuanya natural seperti yang kau inginkan. Aku memakai gamis terbaikku untuk meriasmu dengan riasan natural juga seperti yang kau inginkan.
            “Mbak,..” Kau memandangku dengan senyum tipis. Aku mendekatimu seraya memegang pundakmu yang sesekali bergetar.
            “Mbak akan selalu di sini menemanimu.” Aku membalas tatapanmu hangat.
           “Mbak, aku buta dengan masa depanku setelah ini. Ak aku...” Suaramu terhenti di kerongkongan.      “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku setelah ini..”
             “Tita..semua manusia buta akan masa depan. Semua itu rahasia Ilahi. Kita harus yakin.
       “Tap, tapi Mas Bram sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri Mbak.. Mana mungkin aku mencintainya layaknya cintaku pada ...” Tita kembali tercekat.
            Aku tahu gejolak jiwa muda Tita masih membuncah, tahun ini dia baru lulus SMA. Aku juga memahami Tita tak akan mudah melupakan Dito, kekasihnya di sekolah.
            “Tita, cintamu pada Mas Bram tak akan pernah sama dengan cintamu pada Dito. Cinta Mas Bram padamu juga tidak akan sama dengan cinta Dito kepadamu. Kita hanya tahu bahwa hubungan yang halal adalah cinta yang benar.”
            Pundak Tita langsung berguncang hebat. Ah,  aku harus memperbaiki riasan di wajahnya lagi. Aku bertekad menenangkannya untuk terakhir kali. Semoga Allah mempermudah.
            “Tita, apa yang paling kau khawatirkan Sayang?” Aku menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Tita. Aku memegang kedua tangannya erat. Tita adalah orang paling tegar yang aku temui. Aku hanya perlu menenangkannya dengan segala kemampuanku.
            Tita Menggelengkan kepala.
            “Tita, kau tak salah sedikitpun dalam hal ini. Entah apa yang terjadi nanti, tidak ada yang perlu kau sesali, Sayang... ”
            “Mbak, sebelumnya aku takut sekali akan kematian. Aku benci orang-orang yang aku sayangi satu persatu meninggalkanku sendiri. Tapi sekarang, kematian adalah yang aku inginkan..” Air mata Tita jatuh menetes di tanganku. Hangat yang mengalir deras. Aku menggenggamnya lebih erat. Bukan untuk menguatkannya tapi lebih untuk menyembunyikan getaran tanganku sendiri. Tubuh Tita berguncang. Aku segera memeluknya dengan erat. Aku harus kuat. Tita membutuhkan dekapan yang menghangatkan jiwanya. Semoga malaikat juga mendekap kami.
            Aku tahu kisah Tita yang menurut banyak orang memilukan. Ayahnya meninggal saat usia Tita masih balita. Mungkin ia belum merasa sangat kehilangan saat itu. Hingga beranjak kelas 3 SD, ia kembali kehilangan kasih sayang Ibu. Aku tak tahu jelas sakit apa yang menimpa kedua orang tuanya. Sejak saat itu, Tita dan Mbak Ning tinggal berdua saja. Mbak Ning dan Tita hidup dengan cukup baik meskipun tanpa orang tua. Saudara-saudara hanya membantu seperlunya karena Mbak Ning memang setegar karang. Ia terlalu wibawa untuk sekedar diberi tatapan iba. Hingga akhirnya Mas Bram datang layaknya pangeran yang memerdekakan Cinderella untuk bahagia bersamanya.
            Mas Bram adalah seorang pengusaha sukses yang cukup mapan. Mas Bram menyempurnakan kehidupan Mbak Ning hingga memiliki 2 putri cantik, Fatim dan Faza. Mas Bram juga membuat hidup Tita jauh lebih bewarna. Tita mendapatkan apa yang ia butuhkan, kasih sayang, dan hidup yang berkecukupan. Tita pun tumbuh menjadi gadis pintar dan ceria. Kasih sayang Mbak Ning dan Mas Bram menjadi alasan Tita untuk menjadi yang terbaik di sekolahnya. Tita tumbuh memesona.
            “Aku sangat mencintai Dito Mbak...” Tita melepaskan pelukanku yang melemas. Ternyata benar dugaanku bahwa Tita masih belum rela tengtang kisahnya bersama  Dito.
            Dito adalah teman dekat Tita semenjak kelas 2 SMA. Aku tahu mereka saling mencintai layaknya pasangan muda mudi yang dimabuk asmara. Kabar terakhir, Tita meminta Dito untuk segera melamarnya. Tapi apa daya, orang tua Dito tidak merestui pernikahan mereka. Dito yang belum bekerja dan keadaan Tita yang sebatang kara menjadi alasan tersendiri bagi kedua orang tua Dito. Dan menurutku Dito mengambil langkah yang benar dengan menaati keinginan orang tuanya. Meskipun akhirnya mereka harus terluka. Dito dan Tita harus merelakan kisah cinta berakhir seperti ini.
            “Aku terlanjur mencintainya Mbak... Aku tahu bagaimana sakitnya kehilangan. Aku tak yakin Dito bisa melewati semua ini. Ia juga sangat mencintaiku...” Tita menutup kalimatnya dengan nafas yang panjang kemudian tersengal. Aku diam sejenak, aku mendongak ke langit-langit untuk mencegah air mataku tumpah. Aku tidak boleh menangis di depan Tita. Setidaknya tidak boleh saat ini.
            “Tita..., yang kuat ya Sayang.. Allah sayang sama Tita..” Aku kembali menjabat erat tangannya. Aku harus kembali menyamarkan gemetar tanganku yang tak tahan melihat bagaimana kisah ini berlanjut. Tak terbayangkan bagaimana jika aku berada di posisi Tita.
            Enam bulan lalu Mbak Ning meninggalkan Tita untuk selamanya. Tita kembali terpuruk. Aku sebagai tetangga terdekat, ikut melihat semua kisah ini dengan jelas.


                                                                     ...........................................

         Tepat setelah maghrib, Mas Bram mampir ke rumah dengan wajah sendu. Aku segera mempersilahkan ia duduk di ruang tamu. Rumah kami bersebelahan, tapi Mas Bram tak pernah datang ke rumah seorang diri seperti ini. Suasana tegang berangsur mencair setelah suamiku datang dan menemaniku menyambut Mas Bram.
            “Mbak, aku ingin menikahi Tita.”
            Aku sungguh terkejut mendengar kalimat pertama yang ia sampaikan.
            “Apa?!” Dahiku mengerut.
            “Tadi sore aku sudah menyampaikan maksudku pada Tita. Aku ingin Mbak membantuku menjelaskan lagi padanya agar tidak terjadi salah paham.” Mas Bram memintaku penuh harap.
            “Aku masih tak mengerti...” Dahiku semakin mengerut memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Suamiku hanya terdiam.
            “Mbak dengar sendiri kan, Ning memintaku untuk menjaga Tita sampai kapanpun. Aku tak mungkin memulangkan Tita ke Jawa. Hidupnya kini menjadi tanggung jawabku. Aku tak bisa memisahkan Fatim dan Faza yang sudah dekat dengan Tita. Fatim dan Faza membutuhkan sosok ibu dan mereka membutuhkan Tita. Aku juga ingin bisa menjaga Tita dengan leluasa.”
            Aku terdiam sejenak. “Tapi, apa kata orang nanti?!”
            “Justru apa kata orang jika aku dan Tita hidup bersama berstatuskan saudara ipar? Keputusan akhir tetap pada Tita. Aku yakin ia akan mengerti tujuan baik dari semua ini. Kamilah keluarga Tita yang tertinggal. Semua memang butuh waktu.”
            “Aku bisa apa?”
            “Aku ingin Mbak mendampingi Tita. Mendengarkan pendapatnya. Keputusanku adalah demi Tita dan anak-anak.”
            Mas Bram pamit tanpa aku sempat menyuguhkan apapun. Aku melihat kebulatan tekadnya untuk melakukan ini semua. Aku terdiam dalam keadaan bingung yang sungguh bingung. Semalaman terjadi diskusi panjang dengan suami tentang langkah apa yang sebaiknya kuambil. Butuh waktu lama untuk membuatku mengerti. Semua ini tak mudah bagiku, apalagi untuk Tita.

                                                                           ...................................

            “Tita.. Mas Bram tidak pernah dan tidak akan memaksa kamu. Semua keputusan ada padamu. Sebelumnya kamu sudah menundukkan kepala tanda setuju, apakah sekarang keputusanmu masih sama?”
            “Apakah Dito akan baik-baik saja Mbak?” Tita menatapku dengan mata beningnya penuh air mata. Cintanya pada Dito tak dapat dipungkiri benar-benar ada.
            “Dito akan baik-baik saja. Dia punya keluarga yang bijak. Dito pun adalah anak yang kuat. Ia mengerti apa yang seharusnya terjadi. Semua butuh waktu Ta. Tak ada yang lebih indah selain cinta yang diridhoiNya. Kalian harus saling mendoakan. Percayakan sama Allah.”
            “Aku sangat mencintainya Mbak.. “
            “Ta... Mas Bram juga sangat mencintaimu. Mas Bram juga sangat mencintai Mbak Ning. Tapi tak selamanya cinta akan berjalan sesuai akal kita. Cinta yang hakiki adalah milik penguasa kita. Suami Mbak sering mengingatkan itu. Tak mudah memaknai cinta Ta. Ini adalah kisahmu, Mbak akan selalu bersamamu”
            “Mas Bram sudah seperti kakakku...” Tita memelankan suaranya.
            “Bukan... Mas Bram adalah calon suami yang tepat untukmu. ” Aku menggigit bibir.
            Tita terlihat mengambil nafas panjang, ia mendongakkan wajahnya menatap langit seperti berdoa. Aku membiarkan beberapa detik berlalu tanpa suara.
Tita kemudian menatapku. Ia menghapus air matanya dan menarik senyum tipis seraya berkata, “Aku siap Mbak. Bismillah..”
            “Alhamdulillah..” Aku kembali memeluk Tita. Kali ini lebih erat. Haru biru meloloskan air mataku hingga membasahi pundak Tita.  Bidadari dunia ada di dekapanku.
            Senja mendayu.
           

Selasa, 22 Desember 2015

SETAHUN DORABON, ALHAMDULILLAH..

Tanggal 10 januari 2016 nanti adalah tepat setahun Dorabon. Aku mempersiapkan beberapa merchandise untuk keluarga serta karyawan Dorabon untuk kenang-kenangan. Setahun yang lalu, tepatnya 10 januari 2015 aku mulai mencatat keuangan Dorabon. Aku memulai membuat administrasi dorabon dengan baik. Khususnya keuangan. Pencatatan tentang Dorabon dimulai sejak saat itu hingga akhirnya hari itu diputuskan untuk menjadi hari lahir Dorabon. Kalu ditanya kapan awal mula jualan Dorabon, tepatnya adalah 14 November 2015 aku sudah mulai melaunching Dorabon setelah lebih dari 10 kali melakukan trial error untuk menciptakan abon ayam kriuk produk pertama Dorabon. Waktu itu masih dengan merk Bonabon. Kemasan pun masih apa adanya.  

Banyak yang terjadi selama setahun ini. Yang jelas aku sangat sangat  bersyukur semua berjalan dengan lancar. Kendala-kendala yang ada adalah bagian dari proses yang harus aku lalui untuk mengembangkan usaha ini. Harga bahan baku yanng melambung, komplain konsumen, salah beli mesin, hingga usaha keras untuk melunasi hutang Dorabon. Alhamdulillah semua terlewati dengan sangat baik. Aku merasa kasih sayang Alloh nggak ada habis-habisnya. 

Sebelumnya aku menjalankan usaha bersama dengan tim yaitu teman kuliah. Ada pembagian tugas di sana. Dan sekarang, semua benar-benar kulakukan dengan mandiri, owner merangkap admin, marketing, hingga kurir xixixixi. 

Kekuatan terbesar adalah kekuatan doa dari orang tua dan juga dukungan mereka. Selama ini ibu selalu mendoakan agar usaha ini berkembang sesuai dengan cita-citaku. Ibu selalu ikut terjun di dapur dan mengarahkan proses produksi agar lebih efektif dan efisien. Peralatan dapur hingga kompor juga masih numpang memakai punya Ibu. Bapak membantu memperbaiki alat dapur yang rusak, menyiapkan kayu bakar, bahkan sampai mencarikan sereh di kebun. Tak ada yang lebih mengharukan. Dukungan suami, kakak, dan seluruh anggota keluarga adalah motivasi terbesar. Teman-teman dekat juga banyak sekali yang menyemangati, mendoakan, serta memberi banyak masukan yang amat berarti. Dan alhamdulillah, selama perjalanan setahun Dorabon banyak sekali bertemu dengan orang baik. Website, desain label, brosur, neonbox, kartu nama, pembentukan harga, hampir semuanya... selalu ada orang yang berjasa di tiap bagian. Seakan-akan Dorabon adalah milik semua. Aku? Aku hanya anak yang beruntung.

Resolusi di awal tahun 2015, aku ingin Dorabon mempunyai 2 karyawan karena saat itu masih 1 karyawan. Alhamdulillah terpenuhi. Di tengah tahun 2015 aku menargetkan hutang dorabon lunas dan alhamdulillah terealisasi sesuai target yaitu di bulan Oktober 2015. Mesin-mesin produksi Dorabon sudah resmi 100 % menjadi aset Dorabon.

Tentang penjualan, mmm... grafiknya tidak cenderung naik. Masih naik turun. Namanya juga usaha, apalagi produk Dorabon belum dikenal secara luas. Masih perlu usaha keras untuk penetrasi pasar. Omset yang naik turun adalah tantangan tersendiri. Yang penting aku tetap kebagian gaji yang cukup. Kebahagiaan tersendiri adalah dapat membuka pekerjaan bagi 2 karyawan Dorabon meskipun belum gaji tetap. Dan bertambahnya pengalamanku dalam berjualan sungguh sangat mengasyikkan. Berkenalan dengan banyak orang baru, menjalin keakraban dengan reseller serta saling berbagi ilmu penjualan, serta menemui banyak tipe konsumen yang kadang mengaduk emosi. Alhamdulillah... Alhamdulillah... 

Resolusi Dorabon untuk 2016 sudah menanti. Semoga Dorabon menjadi produk yang bermanfaat, dan aku tetap semangat!

Apapu pilihan hidupmu, pastikan itu baik, yakini,,,perjuangkan!