Senin, 30 Januari 2012

Pemuda islam harus gaul?

Siapa bilang islam membatasi pergaulan dan menghambat kita berprestasi? Siapa bilang? Atau mungkin ada yang beranggapan bahwa bergaul itu tak penting? Atau hanya ibadah saja yang penting? Bergaul itu penting kawann...
Urgensi bergaul banyak sekali:
  1. 1. Bergaul adalah akhlak yang mulia
  2. 2. Dengan bergaul, kita bisa saling memasukkan kegembiraan pada sesama muslim
  3. 3. Tanda orang yang dicintai Allah adalah orang yang dicintai orang sholeh. Jadi kalau ga bergaul dengan mereka, gimana mau dicintai? Ya kan?
  4. 4. Bergaul tentunya dalah untuk mencapai ridho Allah bukan untuk kepentingan dunia. Camkan itu!
  5. 5. Bergaul merupakan salah satu wasilah untuk menunjukkan keindahan islan
  6. 6. Tentunya bergaul adalah menambah teman, bukan musuh lo ya!
  7. 7. Dan yang terpenting, dengan bergaul kita bisa memperkokoh ukhuwah dan meminimalisir konflik internal

So, mau jadi anak gaul? Yuk kita gaul!

IRI


Sungguh iri merupakan penyakit hati yang paling berbahaya setelah sombong. Apalagi kalau iri ini tumbuh menjadi perasaan dengki yang menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan orang yang kita merasa iri padanya. Jujur, aku sendiri sering merasa iri. Dan ternyata iri ini memang manusiawi. Siapa saja pasti pernah merasakannya. Tapi jangan salah, tak selamanya iri bersifat negatif. Ada juga iri yang positif lo.. Kenapa iri tersebut bisa dibilang positif? Iri bisa dikatakan positif bilamana pelampiasanya juga positif. Jadi sebenarnya iri bisa dijadikan cambuk untuk diri sendiri agar bisa berubah lebih baik lagi. Contoh ya..
Misalkan kita iri pada teman kita yang subhanallah dia sangat pintar. Tentunya iri adalah di saat kita tidak sepintar dia dan kita mengharapkan bisa jadi seperti dia kan? Nah, positifnya adalah jika kita mengobati iri tersebut dengan tekun belajar karena ingin minimal sepadan dengan teman kita yang pintar tadi. Dan tujuan sebenarnya adalah kita ingin bisa lebih pintar. Nah! Jadi iri dalam taraf ini bisa dibilang iri yang aman. Karena kita tidak sampai dengki atau berkeinginan mencelakakan teman yang kita iri kepadanya tadi.
Memang... susah. Susah memanajemen hati dari rasa iri. Tapi mari berusaha! Kalau berniat melakukan perubahan baik, Allah pasti membantu cuy!!!

Sabtu, 28 Januari 2012

30 HARI MENCARI SAHABAT

Malam itu suasana kos seperti biasa. Angin semilir menemani kami anak kos nonton TV bersama di ruang TV. Tidak terasa sudah dua tahun aku berada di Jogja demi mengenyam pendidikan lebih tinggi. Kamilah penonton setia TV 14” fasilitas dari ibu kos itu. Aku, Rina, dan Mira. Entah apa yang kami tonton, aku merasa sebenarnya bukanlah tontonan yang kami cari. Yang kami cari adalah suasana hangat saat berkumpul di ruang TV. Yup, TV hanyalah sebagai sarana yang bisa membuat kami tertawa dengan mengomentari kekurangan-kekurangan artis, ataupun mengomentari berita tentang sikap pemerintah yang sering mengherankan. Kebiasaan nonton TV memang telah banyak menyita waktu di kos. Tapi setidaknya rasa kangen pada keluarga bisa sedikit terobati. Teman kos adalah keluargaku di sini.
Di tengah-tengah acara menonton TV biasanya banyak obrolan yang kami lakukan. Entah tentang kampus, salon terbaru, hingga kuliner. Dan malam itu... tentang persahabatan. Mira bercerita banyak tentang sahabatnya.
Tiba-tiba aku menimpali “kalau aku kok nggak punya sahabat ya.. aku bergaul dengan siapa saja”
Mira menjawab, “iya po? Ga mungkin setidaknya pasti kamu punya temen terdekat di kampus.”
“Nggak ada kok. Aku bergaul dengan semua orang. Kan aku orangnya supel jadi temannya banyak. Aku berteman dengan semuanya. Nggak ada yang paling deket. Kalaupun ada ya nggak seorang tapi beberapa orang”
“Gini deh... siapa temen yang paling sering kamu ajak curhat? Atau temen yang sering kamu mintai tolong. Misalkan anterin kemana gt... atau temen yang sering ke kosmu... pasti ada kan? Kaya aku yang deket sama Lini meskipun kami nggak satu jurusan. Tapi sering makan bareng, maen bareng. Ya kayak gt. Pastiny ada... kamu punya juga kan Rin?!”
Rina yang sedari tadi hanya menjadi pendengar kini harus terlibat dalam percakapan..” oh iya sih ada. Satu jurusan. Ake deket sama dia dari awal masuk kuliah sampai sekarang. Yang sering ke sini itu looo.”
Aku menimpali dengan pasrah ..” Yah kenapa ya aku kok nggak punya sendiri ya. Iya sih,, aku pernah berfikir kenapa aku nggak punya temen terdekat. Setidaknya teman yang bisa mencarikan aku kursi kuliah di sampingnya sebelum aku berangkat. Teman curhatku pun banyak. Aku curhat ke siapa saja tergantung apa yang aku curhatkan. Misalkan curhat tentang uang ya kesana, curhat tentang kuliah ya kesana, macem-macem.”
Mira mengomporiku, “ Iya lo... kok kamu nggak punya sih Tin? Aneh banget ....umumnya orang tu ya punya.”
Aku menimpali, “Iya, kadang aku juga berfikir kenapa aku nggak punya seorang sahabat. Terkadang juga butuh mereka. Tapi ya mungkin karena aku supel itu aku dekat dengan semuanya..”
Mira manyun mendengarkan pernyataanku. Yah, sebenarnya aku memang seorang yang supel tapi pernyataan yang terakhir aku lontarkan tak lebih dari sekedar kalimat penghibur hatiku. Sebelum terjadi obrolan itupun aku sudah sering memikirkannya. Aku memang pernah menargetkan bisa mendapat seorang sahabat dari teman sekelas, tapi aku tak mendapatkannya. Aku susah cocok dengan orang, tapi aku bisa beradaptasi dengan banyak golongan teman.
Dulu, saat aku mulai dekat dengan seorang teman, ternyata ada sikapnya yang aku tak suka. Dan yang paling aku benci adalah akan adanya ketergantungan yang besar antara sahabat. Orang lain pasti akan mengira kalau dua orang sahabat tidak bersama berarti sedang marahan. Hff,,,aku ingin merdeka dari keadaan seperti itu. Tapi malam itu aku memang benar-benar galau. Setelah perenungan yang panjang, aku berfikir tak ada salahnya aku mencoba. Siapa tahu sebenarnya aku punya seorang sahabat yang keberadaannya tak aku ketahui. Malam itu, aku mencatat dalam diaryku tentang proyek 30 hari mencari sahabat dimulai tanggal 16 November 2011. Dan aku melaksanakannya.... teng teng teng!
Seperti proyek sesungguhnya, aku punya metode-metode yang harus aku kerjakan. Aku akan melakukan wawancara pada orang-orang yang di sekitarku dan juga mendaftar siapa saja yang dekat denganku selama ini. Wawancara aku lakukan dengan bertanya langsung dan juga lewat sms. Pertanyaanku adalah, “Menurutmu siapa teman yang paling dekat denganku?” .Banyak yang heran menanyakan kenapa aku bertanya seperti itu. Aku jawab, “Pengen tau aja!”
Di hari pertama, muncul satu nama yaitu Vira. Tapi aku tak yakin dengan jawaban itu. Setidaknya aku masih bisa tenang karena masih ada 29 hari lagi. Di hari kedua muncul lagi beberapa nama berbeda. Ah aku semakin bingung. Dan seperti yang aku duga sebelumnya aku akan susah menemukan jawaban dari yang kutanyakan ini. Di hari ketiga sampai hari kelima, tak muncul nama lagi. Yang ada mereka yang aku wawancarai bilang bahwa aku memang mandiri, main sama siapa saja, dan nggak ada yang paling dekat denganku kecuali teman-teman organisasiku, dan itu sangat banyak. Di hari keenam,......... aku menyerahhhh......
Di hari ketujuh, aku mencoret proyek 30 hari mencari sahabat ini dari diaryku. Aku merobek list daftar nama kandidat sahabatku. Aku tak menganggap ini kegagalan. Di senja itu aku berkata pada diriku sendiri, “Astaghfirullah., aku tak mensyukuri nikmat yang ada. Aku sudah bergelimangan kasih sayang dari banyak orang di sekitarku. Aku punya keluarga yang selalu memperhatikanku, memenuhi kebutuhanku lahir batin. Aku punya teman kos yang aku anggap seperti keluarga sendiri. Aku punya temen SD, SMP, SMA, dan teman kuliah yang aku yakin mereka pasti menyayangiku. Aku punya banyak orang yang menyayangiku. Kenapa aku harus mencari satu sedangkan aku bisa dapat banyak? Dan aku punya Allah yang selalu mengawasiku serta memenuhi kebutuhanku. Kenapa aku hanya mengejar keinginanku tanpa memperdulikan kebutuhanku? Aku supel, aku mandiri, bukankah itu semua termasuk potensi yang tidak semua orang punya? Bukankan dengan potensi tersebut justru aku bisa hidup dengan lebih baik? Entah punya sahabat atupun tidak, hidup ini tetap indah kan?! Oke, aku bisa!”. Dan hari itu adalah hari berakhirnya proyekku.
Dua puluh tiga hari setelah kejadian itu, aku kembali galau. Aku kembali memikirkan proyekku yang telah aku akhiri itu. Seminggu lagi adalah hari ulang tahunku. Aku berfikir siapa yang akan datang di hari ulang tahunku dan membuatku bahagia, mungkin dialah sahabatku.. entah siapapun itu... aku berjanji tidak akan menyia-nyiakannya. Seperti sayembara saja pikirku.
Akhirnya.....semuanya terjawab. Dua belas temanku datang ke kos membuat kejutan tepat di hari ulang tahunku. Hari terindah dalm hidupku yang takakan aku lupa. Dan sesuai janjiku, aku tidak akan menyia-nyiakan mereka.
Salah satu temanku berkomentar di face book..
“terkadang kita memang seperti ikan, yang bersusah payah mencari benda yang namanya air. hanya karena ikan mendengar suara manusia bahwa air adalah sumber kehidupan. ikan mencari air ditengah luasnya samudra, yahhha mungkin sama dengan mu yang sedang mencari sahabat di tengah jutaan cinta persaudaraan. dan sama dengan ku yang mencari cinta di tengah berjuta kepedulian.
yang ku kagumi adalah bahwa kau menemukan sebuah persaudaraan melalui kekecewaan.
hanya aku, terus merasa menerima banyak hal darimu.
lagi, hanya bisa berucap terima kasih dibalik banyak hal yang kau beri..
beneran..”
Nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?....